posted on
Kamera Analog

Pesatnya perkembangan teknologi ngebikin segalanya jadi gampang. Sekarang, siapa aja bisa jadi fotografer. Dengan adanya filter dan segala macam fitur editing lainnya, foto yang diambil seadanya pun bisa jadi keliatan profesional. Susah jadinya buat menonjol atau nggak bosan di antara semua foto yang bertebaran di dunia maya. Nah, kamera analog bisa menjadi jawabannya. Secara definisi, analog kurang lebih adalah lawannya digital. Jadi, sebelum adanya kartu memori atau sistem cloud, foto, video, musik, dan sebagainya punya bentuk fisik seperti kertas, kaset, dan piringan. Kamera analog punya bentuk fisik dalam proses kerjanya. Apabila kamera digital seperti DSLR atau mirrorless didevelop melalui komputer, kamera analog didevelop secara langsung oleh tangan. Gimana caranya?

Pertama, dalam menggunakan kamera analog, lo butuh film, atau pita seluloid di mana hasil jepretan lo disimpan. Satu gulungan film menyimpan 36 foto, dan setelah semuanya terisi, lo harus pergi ke tempat cuci foto di mana film lo akan didevelop menggunakan cairan kimia di dalam tempat bernama dark room. Baru setelah itu hasil fotonya tercetak di atas kertas. Tentunya, jika lo mau file digitalnya supaya bisa diunggah, lo harus memindainya dengan scanner lebih dulu.

Dengan modal yang dimulai dari Rp300.000,- untuk body kamera dan kisaran Rp55.000,- untuk satu gulungan film, lo udah bisa memulai hobi fotografi alternatif ini. Hasilnya pun worth it banget karena tentunya beda dari hasil kamera digital. Yuk, bawa Fruittea Sosro lo dan melipir ke Pasar Baru, Glodok, dan toko fotografi lainnya!

Lihat Berita Lainnya